Sabtu, 28 Agustus 2010

Dunia Malam di Sepanjang Jembatan Suramadu



SURABAYA - Jembatan Suramadu hingga kini masih menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat. Suasana di jembatan sepanjang 5,4 kilometer, maupun jalan akses sisi Pulau Madura sepanjang 11,4 kilometer terus berdenyut. Tidak hanya pada siang hari saja, kehidupan dunia malam di sekitarnya juga lebih terasa asyik.

Hampir setiap malam, kondisi Suramadu selalu dipadati para pengguna jasa. Mereka tidak hanya sekedar ingin tahu lebih dekat, melainkan juga mengabadikan pemandangan yang ada di sekitar jembatan terpanjang di Asia Tenggara tersebut. Bahkan tak jarang, para pengunjung banyak yang narsis, mengabadikan dirinya sendiri melalui kamera digital dan ponsel.

Kondisi tersebut juga berimbas pada sepanjang jalan akses Suramadu, yang membentang dari kecamatan Labang hingga Burneh. Bila malam tiba, hampir ratusan pedagang kaki lima yang rata-rata menjual makanan ringan dan minuman, berjejer menunggu pembeli datang.
Tak jarang, saat melintas di sepanjang jalan akses, ditemukan beberapa warung lesehan yang menyuguhkan menu kopi dan minuman hangat lain, dengan lampu penerangan dari lampu oblek yang cahayanya sangat minim. Kondisi tersebut membuat kesan baru, yakni berupa warung remang-remang.

"Warung yang berjualan saat malam (remang-remang), lebih banyak menyediakan kopi dan gorengan," ujar Hadi, warga Bangkalan.

Keberadaan warung remang-remang sendiri tidak selalu bermakna negatif. Sebaliknya sangat membantu para pengguna jasa, yang sebagian besar berasal dari luar Pulau Madura, untuk melepas lelah setelah menyusuri Jembatan Suramadu. Rata-rata mereka juga menjadikan warung tersebut untuk cangkruk (nongkrong).

Justru pemandangan yang tidak biasanya, mereka yang cangkruk lebih banyak kalangan muda-mudi dari luar kota. Tak jarang mereka juga terlihat tertawa dan melepas lelah, sambil sesekali menyeruput kopi hangat, di dampingi oleh pujaan hatinya.

"Dengan adanya Jembatan Suramadu ini, kami punya tempat cangkruk baru. Apalagi suasananya juga asyik," tambah Mustakik, warga Rungkut Surabaya.

Saat larut malam, suasana yang terlihat tidak hanya kalangan muda yang cangkruk di warung remang-remang. Situasi mulai bergeser dengan adanya antrean kendaraan roda dua di pintu gerbang tol, di mana para pengguna jasa yang puas cangkrukan sudah pada pulang. Nah, bila malam minggu antrean bisa panjang hingga dua kilometer.

Antrean untuk bisa melintas di Jembatan Suramadu, tidak membuat warga resah. Sebaliknya, mereka terlihat tetap semangat karena ada perasaan ingin melihat dan lewat secara langsung di Jembatan Suramadu. Apalagi, sinar lampu Kota Surabaya yang terang benderang sedang menunggu mereka pulang.

"Biasanya yang paling antre panjang saat malam Minggu dan Minggu pagi.
Ya, banyak orang yang ingin menikmati Suramadu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar